INDEKS KOTA TOLERAN

Toleransi merupakan masalah tersendiri bagi kehidupan masyarakat kota. Keberagaman penduduk dengan keberagaman latar belakang suku, agama, ras, dan golongan (SARA) seringkali memicu konflik dan perpecahan. Indonesia memiliki pengalaman buruk tentang kota-kotanya yang mengalami kehancuran akibat kasus-kasus intoleransi yang berujung konflik, kaos, dan perpecahan.

Setara Institute adalah salah satu lembaga yang memiliki kepedulian terhadap isu toleransi di perkotaan. Mereka adalah salah satu lembaga pelopor pengukuran Indeks Toleransi Kota (IKT) di Indonesia. Mereka juga sudah menuliskan konsep yang rinci tentang IKT dalam salah sebuah buku karya mereka berjudul “Indeks Kota Toleran Tahun 2023” (2024). Mereka telah mempublikasikan pemikiran tentang IKT itu sejak tahun 2015.

Definisi Operasional

Dalam buku itu, Setara Institute memberikan definisi sebagai berikut: “Kota toleran adalah kota yang memiliki visi dan rencana pembangunan inklusif, regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, kepemimpinan yang progresif bagi praktik dan promosi toleransi, tingkat intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan rendah, dan upaya berkelanjutan dalam mengelola keberagaman dan inklusi sosial”.[i]

Dalam mengukur IKT ini, Setara Institute mengajukan empat variabel sistemik kota yang dapat memengaruhi perilaku sosial antar identitas dan entitas warganya. Empat variabel IKT menurut Setara Institute adalah sebagai berikut:[ii]

  1. Variabel kebijakan-kebijakan pemerintah kota
  2. Variabel tindakan-tindakan aparatur pemerintah kota
  3. Variabel perilaku antarentitas di kota termasuk warga dengan warga, pemerintah dengan warga, dan
  4. Variabel relasi-relasi sosial dalam heterogenitas demografis warga kota

Indikator IKT

Dalam buku “Indeks Kota Toleran Tahun 2023” (2024) dijelaskan bahwa IKT yang dipresentasikan oleh Setara Institute itu mengacu pada kerangka Brian J. Grim dan Roger Finke (2006) yang mengukur tingkat kebebasan beragama dan derajat toleransi sebuah negara.[iii]

Dari kerangka itu, ditentukan ada tiga (3) indikator tingkat kebebasan beragama dan derajat toleransi yaitu

  1. Favoritisme atau pengistimewaan pemerintah terhadap kelompok agama tertentu
  2. Peraturan pemerintah yang membatasi kebebasan beragama
  3. Regulasi sosial yang membatasi kebebasan beragama.

Kerangka Metodologis IKT

Setara Institute menerapkan metodologi yang sistematis untuk mengukur IKT dengan mengukur empat (4) variabel dan delapan (8) indikator sebagai berikut[iv]

  1. Variabel 1. Regulasi Pemerintah Kota
    1. Indikator 1. Rencana pembangunan dalam bentuk RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) dan produk hukum pendukung lainnya
    2. Indikator 2. Ada tidaknya kebijakan diskriminatif
  2. Variabel 2. Regulasi Sosial
    1. Indikator 3. Peristiwa-peristiwa intoleransi
    2. Indikator 4. Dinamika masyarakat sipil terkait isu toleransi
  3. Variabel 3. Tindakan Pemerintah
    1. Indikator 5. Pernyataan pejabat kunci tentang isu toleransi
    2. Indikator 6. Tindakan nyata terkait isu toleransi
  4. Variabel 4. Demografi Sosio Keagamaan
    1. Indikator 7. Heterogenitas keagamaan penduduk
    2. Indikator 8. Inklusi sosial keagamaan

Daftar Pustaka

Yosarie, Ikhsan dkk. 2024. Indeks Kota Toleran Tahun 2023. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara

Rujukan


[i] Ikhsan Yosarie, Indeks Kota Toleran Tahun 2023. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara (2024: 2).

[ii] Ikhsan Yosarie, Indeks Kota Toleran Tahun 2023. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara (2024: 2).

[iii] Ikhsan Yosarie, Indeks Kota Toleran Tahun 2023. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara (2024: 3)

[iv] Ikhsan Yosarie, Indeks Kota Toleran Tahun 2023. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara (2024: 4-6)